Menu Atas Halaman

Selasa, 23 Desember 2014

Tragis, Petinju Nasional Jualan 'Bakso'

KULONPROGO (KRjogja.com) - Kehidupan petinju nasional asal Kulonprogo, Heri Andriyanto tak secerah prestasi yang ditorehkannya. Petinju peraih dua gelar juara nasional Asosiasi Tinju Indonesia (ATI) dan Komisi Tinju Profesional Indonesia (KTPI) kelas ringan tersebut kini seolah tidak memiliki masa depan.

Sebagai atlet tinju dengan berbagai prestasi membanggakan, peringkat tiga Pan Asia Boxing Asociation (PABA) dan peringkat enam Asia Tenggara serta peringkat dua Asia Fasifik (IBF), kondisi ekonomi keluarganya memang cukup memprihatinkan, sehingga memaksa Heri jualan 'Bakso Tinju' di Purworejo Jateng. "Istri dan anak-anak saya butuh biaya hidup. Tidak ada pilihan bagi saya selain usaha buka warung bakso kecil-kecilan," katanya disela latihan persiapan Kejurnas KTI kelas ringan 61 kg, di Sasana Satria Menoreh, Wates, Kamis (27/02/2014).


Puluhan sabuk juara yang dikoleksi Heri terkesan tak berarti bagi Pemkab setempat sebagai pertimbangan agar petinju tersebut mendapat penghasilan layak. Padahal Heri sangat berjasa mengharumkan nama Kulonprogo di tingkat nasional dan internasional.
Rendahnya perhatian Pemkab tak membuat ayah dari Galang Ardiyanto dan Andriyan Galih patah arang. Disela-sela berjualan bakso dia aktif latihan tinju setiap hari untuk meraih prestasi setinggi-tingginya sehingga mengharumkan nama Kulonprogo.

"Jualan bakso merupakan tanggungjawab saya dalam memenuhi kebutuhan nafkah istri dan anak-anak. Saya tidak mungkin latihan terus tanpa memikirkan kebutuhan keluarga," ujarnya mengaku sudah dua kali seleksi CPNS tapi belum juga lolos.

Pelatih Sasana Satria Menoreh Ferry Kuahaty mengakui kondisi pembinaan olahraga tinju di Kulonprogo memang memprihatinkan. "Saya tidak melihat kondisi hari ini tapi masa depan atlet kita nanti. Kalau tidak ada upaya inovatif dan kreatif dari Dinas dan pimpinan KONI maka persoalan yang dihadapi para atlet akan semakin komplek. Para atlet tidak bisa meraih prestasi membanggakan," terangnya.

Kulonprogo sesungguhnya punya banyak atlet berprestasi, tapi karena minim perhatian menyebabkan mereka tidak bisa menunjukkan prestasinya. "Itu menunjukkan ketidakseriusan Pemkab memberikan dukungan kepada pejuang olahraga yang telah mengharumkan Kulonprogo. Pemkab punya tanggungjawab menjamin pendidikan, pekerjaan dan masa depan anak-anak bangsa berprestasi sesuai amanat UU Sistem Keolahragaan Nasional," tegasnya. (Rul)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar